Selamat Datang di Blog Saktiwansyah.....Selamat Datang di Blog Saktiwansyah.....Selamat datang di Blog Saktiwansyah

DAFTAR ISI

Minggu, 15 Juni 2008

Minyak Biji Nyamplung Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Kerosin di Rumah Tangga

Beberapa bulan terakhir kita dapat membaca di surat-surat kabar tentang keberhasilan dari siswa SMAN 6 Yogyakarta yaitu Fathur Rahman dan Aditya Prabaswara yang memenangkan Lomba Karya Tulis Wisata Iptek 2007 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Para siswa tersebut melakukan penelitian terhadap biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum)(Gambar 1)yang dapat menghasilkan minyak dan minyaknya dapat dipakai sebagai sumber alternatif bahan bakar.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM, Neny Sri Utami, menjelaskan, “penelitian yang dilakukan oleh siswa SMAN 6 Yogyakarta tersebut dapat dijadikan entry point untuk pengembangkan potensi buah nyamplung lebih lanjut” (http://www.indonesia.go.id/).

Terus apa kaitannya dengan Judul tulisan saya di atas?. Sebenarnya entry point pengembangan potensi buah nyamplung sudah dirintis sejak 15 tahun yang lalu yaitu tahun 1993 pada saat saya bersama dua teman saya yaitu Ahmad Buchari dan Abdul Rauf memenangkan juara dua Lomba Karya Ilmiah "Hemat Energi" 1993 yang diselenggarakan oleh Museum Minyak dan Gas Bumi " Graha Widya Patra" Taman Mini Indonesia Indah (Gambar 2). Kami menyadari waktu itu bahwa keterbatasan literatur dan teknologi pencarian informasi lewat internet seperti sekarang ini sangat terbatas sekali, sehingga kemampuan untuk mengembangkan dan mencari bahan bacaan yang dapat membuat penelitian menjadi lebih baik menjadi terbatas.

Gambar 1. Pohon dan Buah Nyamplung (Calophyllum inophyllum)

Gambar 2. Pigam Penghargaan Juara II Lomba Karya Ilmiah Hemat Energi 1993.

Judul di atas adalah judul yang kami pakai pada Lomba Karya Ilmiah tersebut. Disela-sela kesibukan kuliah, kami menyempatkan diri untuk melakukan penelitian tersebut. Gagasan dari penelitian yang kami lakukan waktu itu adalah bahwa di Lombok Nusa Tenggara Barat, biji nyamplung tersebut biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat Lombok terutama di pedesaan untuk dijadikan obor pada malam-malam hari besar Islam seperti 1Muharram, mualud nabi dan sebaginya. Obor-obor tersebut dipasang di depan rumah/dipagar rumah masing-masing penduduk sehingga jika malam hari akan terasa terang benderang seterang hati masyarakat yang menyambut hari besar Islam tersebut.

Dari kebiasaan masyarakat Lombok itulah kami menemukan gagasan bahwa biji buah nyamplung pasti mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti minyak kerosin di Rumah tangga. Dan kebetulan sekali pohon nyamplung tersebut sangat mudah tumbuh dan buahnya seperti tidak mengenal musim sehingga ketersediaannya sangat mudah didapat. Dan kami tidak perlu jauh-jauh mencari buah tersebut karena disepanjang jalan depan Rektorat Universitas Mataram, pohon-pohon tersebut tumbuh berjejer rapi seperti menjadi benteng bagi kedaulatan Kampus Unram.

Seperti halnya yang dilakukakan oleh siswa SMAN 6 Yogyakarta, untuk memperoleh minyak biji nyamplung tersebut secara cepat dan sederhana yaitu dengan menggunakan metode fisik yaitu pressing dan hasil minyak yang diperoleh tergantung kekuatan kita dalam mempres/menekan alat tersebut. Tapi sebelum biji nyamplung tersebut dipres, buah nyamplung tersebut dijemur untuk memudah memisahkan antara biji dan daging buahnya serta untuk memudahkan dalam proses pres. Setelah biji kering dan dipisahkan dari daging buahnya selanjutnya biji nyamplung dapat dipres. Minyak yang dihasilkan agak berwarna kekuning-kuningan. Dan permasalahan yang perlu diteliti lebih lanjut adalah mungkin perlu proses pemurnian sehingga api pembakarannya tidak mengeluarkan asap hitam.

Tahun 2003 saya pernah berdiskusi dan berkirim email ke Prof. Dr. Kamaruddin Abdullah salah seorang guru besar IPB yang merupakan anggota team kami dalam melakukan kunjungan ke PT Newmont Nusa Tenggara dalam menganalisa dampak tailing yang dihasil oleh PT NNT tersebut. Bapak Prof memiliki ide agar lahan-lahan kering di Sumbawa dan lahan bekas galian PT. NNT bisa dimanfaatkan untuk penanaman pohon Jarak yang nantinya biji jarak tersebut dapat dimanfaatkan untuk sumber energi minyak alternatif. Dan saya waktu itu menyarankan agar disamping pohon jarak, maka Pohon Nyamplung juga perlu dibudidayakan di lahan-lahan kering Sumbawa sehingga kita dapat memperoleh sumber energi minyak alternatif disamping Jarak. Cuma akhir-akhir ini saya kehilangan kontak dengan beliau sehingga pembicaran pemanfaatan dan pembudiayaan pohon Nyamplung terhenti.

Dengan penelitian yang mendalam dan semangat juang generasi muda dalam menyongsong 100 tahun Kebangkitan Nasional, maka saya yakin pemanfaatan biji nyamplung sebagai alternatif sumber energi minyak akan terpenuhi sehingga beban Rakyat yang besar akibat kenaikan harga BBM dunia dapat sedikit teratasi.

Demikian sekilas review tulisan ini saya buat dalam menyongsong 100 Tahun Kebangkitan Indonesia.


[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 24 Mei 2008

Pakan Yang Tepat Untuk Budidaya Perikanan Yang Tepat

Sekitar bulan Desember 2007 saya berkesempatan mudik ke Sumbawa Nusa Tenggara Barat untuk menjenguk orang tua yang sedang sakit. Satu hari pada kesempatan tersebut saya mengunjungi tambak salah seorang paman saya dan beliau bercerita banyak tentang adanya program dari dinas perikanan untuk menjadikan tambak paman saya sebagai project percontohan dalam pembudidayaan “bukang” yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Kepiting/rujungan.

Beliau bercerita tentang janji pemberian bibit dan dana untuk projec tersebut yang sampai saat saya berkunjung munkin hanya 5 % dari janji tersebut yang direalisasi oleh dinas perikanan. Tapi yang lebih mengejukan lagi bagi saya disamping cerita di atas adalah ketika saya ditunjukkan pakan yang diberikan oleh dinas perikanan yang katanya ditujukan untuk proyek pembudidayaan “bukang” tersebut adalah ternyata pakan tersebut adalah pakan yang diperuntukan bagi budidaya ikan air (Gambar 1).


Gambar 1. Pakan Ikan yang diberikan oleh dinas perikanan untuk
Budidaya “bukang” atau rujungan di Sumbawa

Naluri saya sebagai seorang yang sudah bekerja sekitar tujuh tahun dalam industri pakan tergelitik ketika melihat kenyataan tersebut dimana pakan yang seharusnya diperuntukkan bagi ikan tapi diperuntukkan untuk budidaya jenis yang lain.

Kasus pemberian pakan yang tidak tepat dalam budidaya perikanan tidak hanya terjadi di Sumbawa, tapi dibeberapa daerah di Indonesia banyak sekali peruntukan pakan yang salah dimana pakan lele diberikan untuk pakan bandeng dan pakan ikan Mas diberikan untuk pakan patin.

Melihat banyaknya kasus-kasus tersebut, maka peran dari departement kelautan dan perikanan serta peran dari industri prikanan dalam memberikan pengetahuan yang lengkap dan baik bagi petani dan pembudidaya perikanan akan sangat diharapkan, mengingat hal tersebut penting dalam meningkatkan produktivitas petani sehingga petani tidak mengalami kerugian dalam berusaha di bidang perikanan.

Pengetahuan tentang karakteristik pakan perlu diketahui karena pakan-pakan yang dibuat di industri pakan sudah disesuaikan formulasinya berdasarkan peruntukan budidayanya. Pakan yang dibuat untuk budidaya “bukang” tentu berbeda dengan pakan yang dibuat untuk budidaya Ikan Mas. Budidaya “ bukang” tentu hampir sama dengan budidaya udang dimana pakan yang dibutuhkan adalah pakan yang “water stabilitynya” lama artinya ketahanannya dalam air relatif lama atau tidak mudah hancur, dan biasanya jenis pakan ini memiliki “water stability” sekitar 1 sampai 2 jam. Hal ini dikarenakan udang atau “bukang” memiliki pola makan dan pergerakan yang lambat. Lain halnya dengan Ikan Mas. Pakan yang diberikan haruslah formulasinya disesuaikan untuk Ikan Mas dan karakterisasinya disesuaikan Ikan Mas juga dimana pakan ini haruslah memiliki “water stability” yang relatif cepat atau tidak boleh dibuat sama seperti pakan untuk udang atau “bukang”. Hal ini dikarenakan Ikan Mas atau Ikan air tawar lainnya cepat dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan.

Disamping karekatrisasi diatas, jenis pakan yang diberikan juga harus disesuai dengan jenis budidaya yang dikembangkan. Jenis Pakan “Floating” atau mengambang tentu tidak cocok diberikan untuk budidaya “bukang” atau udang karena tidak mungkin “bukang” atau udang dapat berenang di atas air. Jadi pakan yang cocok untuk budidaya “bukang” atau udang adalah jenis pakan “Sinking” atau tenggelam.

Hal yang perlu diperhatikan oleh petani atau pembudidaya sebelum pakan dipakai adalah keterangan yang terdapat pada karung atau kemasan serta label pakan yang terdapat pada karung atau kemasan tersebut. Tidak hanya produk pangan saja yang perlu diperhatikan kemasannya, produk pakan juga penting untuk diperhatikan kemasannya. Tidak seperti halnya produk pangan dimana komposisi bahan baku untuk membuat produk tersebut langsung tercetak dalam kemasannya (Gambar 2), tapi dalam produk pakan biasanya komposisi bahan bakunya dicetak dalam label tersendiri atau tidak langsung tercetak pada karung atau kemasan pakannya (Gambar 3). Label-label pakan yang berisi komposisi bahan baku dan jenis peruntukannya tersebut biasanya ditempelkan atau dijahit pada karung atau kemasan pakan tersebut. Beberapa contoh label pakan dari berbagai industri pakan dapat dilihat pada gambar 3. Disamping bahan baku yang digunakan dalam memproduksi pakan tersebut, di dalam label pakan juga biasanya dicantumkan kode produksi yang menyatakan tanggal berapa produk tersebut dibuat, tapi kode produksi tersebut biasanya hanya industri pakan tersebut saja yang dapat menterjemahkannya.






Gambar 2. Komposisi nutrisi langsung tercetak di kemasan untuk produk pangan.



Gambar 3. Komposisi Nutrisi dan bahan baku untuk produk pakan tercetak pada label

Jika para petani, penyuluh perikanan dan para pembudidaya mau memperhatikan keterangan yang terdapat dalam label pakan, maka kesalahan pemberian pakan untuk budidaya perikanan dapat dihindari dan hasil yang diperolehpun dapat lebih optimal. Tetapi berdasarkan pengamatan di lapangan, tidak jarang para petani memaksakan diri untuk memberikan pakan yang tidak sesuai jenis peruntukannya. Sebagai contoh untuk ukuran pakan, ada beberapa petani kadangkala tidak memperhatikan jenis ukuran pakan. Ukuran pakan yang diberikan dari sejak masa pertumbuhan hingga masa akhir kadangkala diberikan satu jenis ukuran pakan, padahal idealnya untuk ikan lele misalnya ukuran pakan untuk ikan lele masa awal dengan berat badan 10-60 gram idealnya diberikan pakan dengan ukuran diameter dan panjang adalah 2 mm, sedangkan untuk masa pertumbuhan dengan berat badan berkisar 60-150 gr dapat diberikan pakan dengan ukuran 3 mm dan masa pertumbuhan akhir sampai siap dijual dapat diberikan pakan dengan ukuran 4 mm. Begitu juga dengan kandungan protein pakan, pemberiannya harus disesuaikan dengan masa pertumbuhan ikan budidaya tersebut serta jenis ikan yang dibudidayakan.

Terkait dengan pengetahuan petani untuk mengetahui jenis pakan yang tepat untuk budidaya perikanan yang tepat, maka apa yang dilakukan oleh departement prikanan dan kelautan pada akhir tahun 2007 yang sampai saat ini masih berlangsung yaitu meminta industri-industri pakan untuk mendaftarkan produk pakannya dan disesuaikan dengan SNI yang berlaku perlu didukung, agar petani, pemerintah dan pengusaha pakan dapat bekerjasama dalam meningkatkan pembangunan prikanan di tanah air tercinta ini.

Penulis : Saktiwansyah Efendi, Alumni Ilmu Pangan IPB. Bekerja di PT. Central Pangan Pertiwi (Charoen Pokphand Group).


[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 30 April 2008

Rahasia Kehidupan

Masih teringat pada siang tanggal 25 April 2008 isteri saya menelepon ke saya dan mengatakan bahwa dia barusan menelepon ke Umi (Ibunya) dan Umi mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu pulang ke Jasinga (Kampung tempat tinggal Umi di Bogor. Pembicaraan selanjutnya adalah saya mengatakan kalau tidak ada apa-apa kita bisa pulang saat Neng Nory (adik siteri) wisuda. Tapi malam sebelumnya kita sudah berencana akan pulang hari Sabtu tanggal 26 April 2008.



Sekitar Jam 4 malam dini hari tanggal 26 April 08 neng Nori menelepon agar pulang saja ke Jasinga hari ini. Kita sekeluarga yang tidak punya firasat apa-apa baru berangkat sekitar Jam 8.30. Telepon berdering menerima panggilan baik dari Bapak mertua, adik Ipar yang menanyakan posisi dimana saat ini. saat memasuki tol Karawang Timur saya meminta Isteri untuk menelepon ke Bapak Mertua untuk menanyakan kenapa Umi tidak di bawa saja ke RS di Bogor. Kabar selanjutnya yang terdengar sungguh menggetarkan........Umi........ telah pergi...............
Isteri yang duduk di kursi sebelah kiri disamping saya yang lagi menyetir kontak berteriak histeris.....histeris dan histeris.......
Saya berusaha mengendalikan diri, karena saat itu saya memegang kendali mobil yang saya bawa. Saya berfikir, jika saya kehilangan konsentrasi maka celakalah kita semua.

Syukurlah selama lebih kurang empat jam perjalanan Cikampek-Jasinga akhirnya sampai kita di rumah. Bendera kuning telah berkibar disepanjang jalan dekat rumah, isteri semakin histeris......... segala sesuatu serasa begitu cepat berjalan. baru kemaren isteri berbicara dengan Umi, sekarang beliau terbujur kaku, menunggu isteri datang untuk dimandikan....
Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipiku saat kulihat Umi dimandikan. Teringat aku akan kebaikannya, kesabarannya dan ketulusannya. Tapi di dalam hatiku aku berucap..."Umi pasti mendapat tempat yang layak disisi Allah." Karena dia adalah sesorang penyayang dan sering sekali menyantuni anak yatim serta para tetua jompo. Maka tak heran ketika salah seorang Ibu tua berucap sambil menangis terisak-isak "Tidak ada lagi orang yang baik yang suka memberi uang kepada kita."

Umi........tubuhmu terbujur kaku. Aku yang mengangkatmu ke liang lahat... saat adzan dikumandangkan di liang lahat, tak terasa bulir-bulir air mata menetes dipipihku laksana hujan di siang hari yang tak dapat kucegah. Saat itu aku berfikir siapapun di dunia ini suatu saat pasti akan terbaring sepertimu. Tak tahu betapa sedihnya hati ini. Saat tulisan ini kubuat, mataku berkaca-kaca... ada kesedihan yang mendalam di hati ini...ternyata sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang sangat lemah. Sekuat apapun kita, segagah apapun kita, sekaya apapun kita, ternyata suatu saat kita akan mati dan tidak membawa apapun selain amal kebaikan kita. Dan... kematian itu tak pernah datang mengabari... kematian itu tak pernah datang berbisik...kematian itu tak pernah memberi tanda... kematian itu laksana halilintar datang dengan mengejutkan...........
Hari ini aku mendapat pelajaran yang sangat berharga agar kita manusia tidak boleh lengah dan terlena. Berbuatlah baik sebanyak-banyaknya, beramallah sekuat-kuatnya, beribadahlah setulus-tulusnya. Aku yakin... Umi pasti tersenyum di sana... karena kau telah menikmati kebaikan yang selama ini kau tanam. Malaikat-malaikat pasti mendampingimu dan membuat hatimu senang dan tersenyum seperti khabar yang engkau berikan lewat anak bungsumu dalam mimpi rindunya.
Hidup ternyata tidak dapat diprediksi.Itu adalah rahasia Ilahi. Saat ini kita masih bisa bernapas, tapi kita tidak tahu kapan ajal kita menjemput. Maka adalah menjadi pelajaran bagi kita bahwa seharusnya kita berbuat baik sebanyak-banyaknya untuk bekal kita dihari kemudian.
Kita akan hidup dua kali, yaitu hidup di dunia dan hidup di akhirat. Kehiupan akhirat inilah yang kekal. Dimanakah posisi kita nanti di akhirat? apakah di Surga atau Neraka? Perilaku kitalah yang akan menentukan saat kita hidup dunia ini.
Selamat jalan Umi....Semoga engkau mendapat tempat yang terbaik di sisiNya dan kami berdo'a semoga Allah membuka pintu Surga seluas-luasnya bagi Umi yang baik hati, sabar dan penuh kasih... amin.....
Selamat jalan Umi... Do'a kami menyertaimu.......................

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 25 April 2008

Kenapa Saya Harus Menulis

Sebenarnya parakata ini harusnya saya tulis sebelum posting pertama saya keluarkan. Namun karena berbagai hal belum sempat saya posting. Kembali ke judul di atas " kenapa Saya Harus Menulis" itu perlu saya lakukan karena menulis dalam blog ini bagi saya adalah tempat untuk selalu mencerdaskan diri sendiri serta berdiskusi dan berbagi ilmu dengan orang lain.

Saya terpikir agar pengetahuan yang saya peroleh dibangku sekolah sampai kuliah serta pengatahuan dan pengalaman saat saya bekerja tidak hilang begitu saja dalam ingatan saya sehingga saya perlu menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk setiap saat bisa saya baca oleh diri saya sendiri serta mungkin dapat bermanfaat bagi orang lain.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa "Menulis apa yang kita tahu adalah lebih baik daripada menyimpannya dalam ingatan".
Tulisan-tulisan yang kita buat disamping bermanfaat bagi diri sendiri juga akan menjadi sebuah kenangan atau sebuah karya yang akan selalu ada dan terbaca oleh orang lain dan hitung-hitung menjadi amal yang baik jika bermanfaat bagi orang lain.
Menulis adalah suatu pekerjaan yang gampang-gampang susah, oleh karena itu ketekunan dan kesabaran sangat dibutuhkan sekali. Ungkapan yang mengatakan "Tulislah apa yang kamu pikirkan dan jangan memikirkan apa yang akan kamu tulis" adalah bisa menjadi pendorong bagi setiap orang untuk mau menulis. Apa jadinya sejarah jaman dahulu jika tidak pernah ada orang yang terpikir untuk menulis tentang apa yang terjadi. Bisa jadi sejarah-sejarah yang benar-benar terjadi hanya menjadi dongeng atau legenda yang entah benar atau tidak karena apa yang terjadi hanya disampaikan secara lisan dan orang yang mengetahuinya kemudian meyimpannya hanya dalam pikirannya.
Akhir kata, semoga tulisan-tulisan saya dalam blog ini bermanfaat bagi saya pribadi dan bermanfaat juga bagi orang lain yang membacanya.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 14 Maret 2008

Aeromonas? Kick It With Herbs

Ulah aeromonas bagi Supadi adalah sebuah nestapa. Ia ingat betul saat bakteri itu beraksi. Delapan puluh persen gurami siap panen di kolam 20 m x 30 m tampak lemas dan enggan menyantap pakan. Peternak di Blitar itu semula tak ambil pusing. Sikapnya berubah tatkala satu per satu gurami mati. 'Saya rugi sampai Rp15-juta,' ujar Supadi tersenyum getir.


Saat bencana itu datang Supadi tak berdaya. Ia hanya bisa menyelamatkan belasan gurami ke kolam pendederan berukuran 1 m x 2 m. Beberapa gurami mati di bawa ke seorang teman, petugas penyuluh perikanan. 'Setelah di cek penyebabnya bakteri aeromonas,' kata Supadi.
Bakteri penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) itu memang sangat ditakuti. Lihat saja efek serangan yang ditimbulkan. Sisik mekar, terjadi pendarahan di kulit, dan perut mengembung. 'Ikan yang diserang sulit diselamatkan,' ujar Dr Sri Lestari Angka dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Antibiotik seperti Oxytetracycline, Streptomysin, dan Chloromycetin selama ini dipakai untuk mengatasi serangan Aeromonas hydrophilia itu. Namun, selain tak mudah didapatkan, antibiotik itu bagi peternak kecil seperti Supadi tergolong mahal. Harganya mencapai puluhan ribu rupiah per botol. 'Saya disarankan pakai sirih dan cukup manjur,' katanya. Sekitar 10 lembar daun sirih ditumbuk lalu ditebar ke kolam selama seminggu penuh. Hasilnya, gurami yang selamat mulai terlihat sehat dan lahap menyantap pakan.
Tanaman obat
Menurut Ir Arief Prajitno MS, ahli penyakit ikan di Malang, beberapa tanaman obat yang dipakai pada manusia bisa diterapkan pula pada ikan. Contoh daun sirih, kunyit, dan daun pepaya. 'Tanaman-tanaman itu bersifat antibakteri sehingga dapat menyembuhkan penyakit ikan akibat bakteri,' ujarnya.
Kunyit yang mengandung curcumin bersifat antibakteri, dan antiinflamasi. Sebab itu, Curcuma domestica itu dapat menyembuhkan luka pendarahan akibat aeromonas. Demikian pula dengan daun pepaya yang bisa membatasi penyebaran luka akibat infeksi bakteri.
Sri Lestari Angka yang melakukan riset tanaman pembasmi aeromonas mendapati campuran daun sirih, sambiloto, dan daun jambu batu mujarab sebagai anti bakteri. Daun jambu biji, misalnya, mengandung senyawa flavonoid yang efektif meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Begitu bakteri aeromonas menginfeksi, serta merta tubuh akan menghadangnya dengan menghancurkan sistem pelindung tubuh bakteri. “Campuran itu tidak akan membahayakan ikan,” ujar peneliti aeromonas sejak 1980 itu.
Pengganti antibiotik
Penggunaan tanaman obat memberikan banyak keuntungan. Bahan bakunya murah dan mudah didapat. Aplikasinya mudah. 'Bila tidak ada ekstraknya, tanaman cukup ditumbuk lalu ditaburkan begitu saja,' ujar Arief. Jika tersedia ekstrak, dosis pemberian dianjurkan 5—10 cc per liter. Meski demikian, pemberian dosis tinggi tidak akan memberikan efek merugikan karena yang digunakan bahan alam.
Sri Lestari Angka memberi campuran ekstrak daun sirih, sambiloto, dan daun jambu biji pada pakan. Dosisnya sebanyak 1 ml/100 g pakan sebagai tindakan preventif. Namun, untuk pengobatan dosis dinaikkan hingga 2,5 ml/100 g pakan. 'Dari hasil ujicoba ikan yang sudah parah bisa sembuh kembali,' tutur Sri.
Pengobatan memang jalan terakhir untuk mengatsi aeromonas. Namun, agar ikan selamat, peternak perlu menjaga kualitas air sebagai sumber penularan aeromonas. “Tanpa memperhatikan kondisi lingkungan, serangan akan terus berulang,” ujar Arif. Nah, bila semua sudah terjaga, tapi aeromonas masih berulah, biarkan tanaman obat yang melawannya. (Lani Marliani)
Oleh trubus : http://www.trubus-online.com
Kamis, 14 Desember 2006 13:20:10

[+/-] Selengkapnya...